Kisah Menarik: Ternyata Jasad Nabi Muhammad SAW Pernah Akan Dicuri

0 Comments



Percaya gak, klo ternyata jasad nabi Muhammad SAW pernah terusik dan nyaris di curi oleh orang kafir laknatullah. Sebelum akhirnya Allah menyelamatkannya dari rencana jahat yang mengancam sang nabi tercinta. Peristiwa yang memilukan dan nyaris menampar wajah umat islam ini terjadi pada tahun 1164 M atau 557 H, sebagaimana telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz dalam kitab Fusul min Tarikhi AL-Madinah Al Munawaroh.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar orang yang berziarah ke masjid Nabawi pasti tak pernah lupa untuk menghampiri makam Rasulullah yang diapit oleh makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Mereka berbondong-bondong menuju makam sang nabi Fenomenal itu. Untuk sekedar melihat atau berdoa.

Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kondisi umat islam pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad dimana kondisi umat Islam yang semakin melemah dan berdiri beberapa kerajaan Islam di beberapa daerah. Tentunya hal ini tak di sia-siakan begitu saja oleh orang-orang nasrani yang merasa kesempatan emas mencoreng wajah umat Islam dan membuat umat Islam jatuh ada di depan mata. Karena ternyata diketahui diam-diam mereka telah menyusun rencana untuk mencuri jasad Nabi Muhammad. Setelah terjadi kesepakatan oleh para penguasa Eropa, mereka pun mengutus dua orang nasrani untuk menjalankan misi keji itu. Misi itu mereka laksanakan bertepatan dengan musim haji. Dimana pada musim itu banyak jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Kedua orang nasrani ini menyamar sebagai jamaah haji dari Andalusia yang memakai pakaian khas Maroko. Kedua spionase itu ditugaskan melakukan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW.

Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri untuk menyewa sebuah penginapan yang lokasinya dekat dengan makam Rasulullah. Mereka membuat lubang dari dalam kamarnya menuju makam Rasulullah.

Belum sampai pada akhir penggalian, rencara tersebut telah digagalkan oleh Allah melalui seorang hamba yang akhirnya mengetahui rencana busuk itu

Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, adalah seorang hamba sekaligus penguasa Islam kala itu yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah.
Sultan mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah sambil menunjuk dua orang lelaki berambut pirang dan berujar: “ Wahai Mahmud, selamatkan jasadku dari maksud jahat kedua orang ini.” Sultan terbangun dalam keadaan gelisah lalu beliau melaksanakan sholat malam dan kembali tidur. Namun, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah hingga tiga kali dalam semalam.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari damaskus ke madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW.

Lalu menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu, “Apakah Baginda Sultan mengenal wajah kedua lelaki itu? “Iya”, jawab Sultan Mahmud.

Maka tidak lama kemudian Menteri Jamaludin mengumpulkan seluruh penduduk Madinah dan membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil mencermati wajah orang yang ada dalam mimpinya. Namun sultan tidak mendapati orang yang ada di dalam mimpi itu diantara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan kepada penduduk yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi. “Apakah diantara kalian masih ada yang belum mendapat hadiah dari Sultan?”
Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah dari Sultan, kecuali dua orang dari Maroko tersebut yang belum mengambil jatah sedikitpun. Keduanya orang saleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi.” Ujar seorang penduduk.
Kemudian Sultan memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Dan alangkah terkejutnya sultan, melihat bahwa kedua orang itu adalah yang ia lihat dalam mimpinya. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai jamaah dari Andalusia Spanyol. Meski sultan sudah mendesak bertanya tentang kegiatan mereka di Madinah. Mereka tetap tidak mau mengaku. Sehingga sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam keadaan penjagaan yang ketat.

Kemudian sultan bersama menteri dan pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah, ditemukan sebuah papan yang di dalamnya menganga sebuah lorong panjang, dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad.

Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja Nasrani di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi SAW. Kemudian sultan Mahmud memerintahkan penggalian parit di sekitar makam Rasulullah dan mengisinya dengan timah. Setelah pembangunan selesai, sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.

Sumber: http://indonesiabreakingnewsonline.blogspot.com/2008/07/pencurian-jasad-nabi-muhammad-saw.html

0 comments:

Kisah Muallaf Kenya yang Masuk Islam Setelah Berzina Saat Natal

0 Comments

"Setelah makan-makan, pengurus gereja mengajak untuk mematikan lampu dan memilih satu atau dua wanita untuk dijadikan pasangan..."

Kisah Muallaf Kenya yang Masuk Islam Setelah Berzina Saat Natal
Dok/Imam Muhammad
Daniel, kanan, bersama penulis. Gambar sengaja dikaburkan sesuai permintaan narasumber.

CERITA kecil di Hari Raya Natal. Sebut saja nama kawan saya Daniel. Dia bercerita banyak soal masa-masa “nikmat” saat masih beragama Kristen. Ada sisi menarik yang perlu saya sampaikan dari hasil cerita dia.

“Aku ingin bercerita sepenggal kisah masa silamku. Dahulu, aku saat masih beragama Kristen, Natal adalah waktu yang sangat kami (para pemuda, para pria) idam-idamkan,” ujar Daniel memulai kisahnya.

“Mengapa?” tanya saya penuh penasaran dalam bincang-bincang dengannya di sebuah perguruan tinggi wilayah Hajj Yusuf, Sudan, beberapa waktu lalu.

“Mari kita minum teh dulu,” ajaknya sembari dia menuangkan teh panas ke gelas saya.
“Alhamdulillah, aku sekarang Muslim setelah 7 tahun yang lalu merasakan ‘kenikmatan’ itu,” katanya lagi seraya mempersilakan saya menikmati teh panas.

Penasaran saya memuncak, ingin rasanya saya menggerakkan mulutnya, untuk segera melengkapi cerita yang dia mulai. Beberapa tegukan teh panas ia habiskan. Ia memasang kaos kaki lalu memakai sepatu dan melanjutkan ceritanya.

“Kami dahulu menjadikan malam menjelang Natal, malam 25 Desember, (sebagai) tempat untuk ‘bercocok tanam’ yang amat subur. Malam itu kami di dalam gereja berdoa khidmat, menangis-nangis, setelah itu makan-makan. Dan terakhir paling di luar dugaan, yaitu malam mematikan lampu. Dahulu aku tak paham, aku pikir dunia ini adalah akhir kehidupan. Hingga semua apa yang kulakukan terasa biasa-biasa saja, termasuk keluar-masuk gereja. Aku bangga dengan keyakinanku. Tapi entah malam itu, sepertinya malam konyol buat keyakinanku,” tuturnya menyambung cerita.

Gereja tersebut terletak di Nairobi, ibukota Kenya. Para jemaat, kata Daniel, dijemput dengan bis besar di desa-desa pada malam hari. Di dalam gereja pun mereka menikmati jamuan makan dan minum.

“Setelah makan-makan, pengurus gereja mengajak untuk mematikan lampu dan memilih satu atau dua wanita untuk dijadikan pasangan buat berdansa, meminum khamr sampai pada ‘halal’-nya berzina. Kami seperti hewan satu dengan lainnya. Hingga setelah peristiwa mengerikan itu aku mencoba berpikir betapa kami ini kotor dan menjijikan. Dari sinilah mulai muncul rasa penasaranku terhadap keyakinan lain. Aku melihat orang yang beribadah di lain tempat, laki laki sendiri dan perempuan sendiri. Mereka bersuci dan berseragam. Aku melihat mereka beribadah dan beribadah tak pernah menyalahkan satu dengan yang lain.”
Awal Mula Masuk Islam

Daniel, pria lajang brewok hampir menginjak umur 28 tahun ini, terus bercerita penuh semangat. Dengan bahasa Arab yang amat mudah dicerna, pria jebolan Ma’had Hajj Yusuf setengah tahun yang lalu ini mencampur aduk antara bahasa Arab dan Inggris.

“Awal masuk Islam aku melihat (Jamaah) Tabligh. Kemudian aku mencoba untuk belajar dengan mereka sedikit-sedikit. Ada cerita menarik saat aku baru masuk Islam. Suatu hari aku pergi ke ibukota Kenya, Nairobi, di sana aku shalat. Saat itu imam sudah pada rakaat ke-3, aku baru datang, alhasil aku telat 2 rakaat. Namun, saat imam salam dan aku pun ikut salam, sedangkan jamaah yang masbuk menuruskan shalat, aku hanya diam dengan kepolosanku.”

“Aku belum belajar banyak soal Islam, hanya tahu sedikit saja. Salah seorang yang masbuk bertanya padaku, ‘Kenapa kamu tidak berdiri seperti kami berdiri?’ Aku jelaskan, ‘Kalau aku berdiri lagi imamku siapa? Maafkan aku karena aku baru masuk Islam.’ Pria yang bertanya ini pun memaklumiku dan beliau meminta aku belajar  tata cara shalat. Aku tiap hari datang ke masjid itu hingga 5 kali belajar. Namun belakangan hari beliau tak terlihat lagi dan tak memberi kabar. Namun hikmah perjalananku ke ibukota luar biasa. Selain aku belajar untuk mencari maisyah, aku tahu istilah masbuk dalam shalat.”

Dia berpesan buat umat Muslim soal hari Natal. Anak ke-4 dari 6 bersaudara ini mengatakan, banyak Muslim sekarang tak paham soal “Happy Christmas”.
“Hakikat ‘Happy Christmas’ adalah ibadah, karena kami (saat Kristen) percaya tuhan itu 3 dan Isa adalah anak tuhan. Kami merayakan dengan makan roti sebagai simbol penyelamatan daging Isa dan khamr darah Isa. Dilanjutkan merusak tubuh pada tanggal 26 (Desember) untuk merasakan sakitnya disalib ini. Demi toleransi atas penyiksaan Tuhan kami,” jelasnya.
Daniel pun menyampaikan nasihat buat umat Islam yang masih merayakan Natal. “Sesungguhnya perayaan-perayaan hari raya seperti Natal ini mengandung nilai kekufuran,” katanya.

“Yaitu menyandangkan sifat tuhan kepada Al-Masih Isa bin Maryam, reinkarnasi, memberhalakan Isa, menganggapnya sebagai anak Allah, ia mati disalib, dan keyakinan lainnya. Dan keyakinan tersebut telah membuat Allah Ta’ala murka. Sesungguhnya ikut serta dalam perayaan batil tersebut, memfasilitasi atau mengamankannya, menunjukkan kecocokan dan keridhaan terhadap perayaan itu dan pengakuan akan kebenaran keyakinan mereka,” jelasnya.
“Walaupun orang yang ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut meyakini berbeda aqidah dengan mereka, tapi ia berada di atas bahaya besar akibat kejahilannya dalam sikapnya tersebut. Karena keridhaan terhadap kekufuran adalah kekufuran juga,” tambah pria asli Kenya ini.
“Kenapa kalian (umat Islam, Red) rela mengatakan tuhan mereka selamat? Sungguh tanggal 25 Desember itu tak ada sangkut pautnya dengan Isa karena Bibel telah berbohong,” tambahnya lagi.
Jadi Penghafal al-Qur’an
Daniel mengisahkan, dia masuk Islam setelah melihat Jamaah Tabligh yang berdakwah dengan tangan dingin. Selain itu pamannya yang Kristen menganjurkannya banyak membaca buku Sunnah Nabi dan terjemahan berbentuk bahasa Sohiliah. Bahasa ini digunakan di negara Kenya, Tanzania, dan Uganda.

“Aku berangkat ke Nairobi, ibukota Kenya, untuk bekerja. Dan hasilnya aku belikan buku hasil masukan dari pamanku. Setelah banyak baca buku, aku masuk pesantren dan masuk Islam lewat pesantren itu. Empat tahun memeluk Islam, tapi shalat sepekan sekali yaitu Jumat saja. Bahkan aku sempat kembali mujrim (pelaku keburukan, Red) lagi karena pekerjaanku dan kerasnya perjuangan di ibukota. Namun, alhamdulillah Allah menyelamatkan aku dari jahiliyah. Cahaya baru datang, panggilan berhijrah ke Sudan,” tuturnya.

Dia melanjutkan kisahnya, “Aku belum tamat SMA, karena aku menjadi tulang punggung keluarga. Ayahku nikah lagi dan kakakku yang perempuan sedang semangat-semangatnya belajar. Jadi aku biarkan dia yang belajar dan aku kerja buat kehidupan keluargaku. Yang penting kakakku selesai (belajar). Tapi semua telah indah, aku bisa hijrah ke Sudan dan memeluk Islam. Tapi aku mohon doa kalian karena (keluarga) yang lain masih belum bersyahadat. Semoga ketika aku pulang nanti bisa menjadi penerang buat keislamaan mereka. Aku bertekad untuk menghafal al-Qur’an sebelum umurku genap 30 tahun.”
Daniel mengaku, setelah masuk Islam pada 2006 lalu. Baru 3 tahun belakangan ini dia bisa mengaji.

0 comments:

Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

0 Comments

Melaksanakan ibadah puasa bagi umat islam berarti menahan haus dan lapar serta hawa nafsu dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Berpuasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, sehingga ada banyak hal yang dapat membatalkan puasa selain makan dan minum.
Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa
Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa

Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa

1.   Makan dan minum.

Umat islam telah bersepakat (ijma`) bahwa apabila ada orang yang makan dan minum dengan sengaja dan Ia mengetahui bahwa perbuatan itu adalah haram, maka puasanya batal, karena menahan diri dari makan dan minum adalah faktor esensi dari pelaksanaan ibadah puasa. Sedangkan perbuatannya bertentangan dengan pelaksanaan puasa tanpa ada udzur. Seperti yang dipaparkan di dalam Al Qur`an:
… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… 
Jikalau seandainya ada sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, kemudian terkena air ludah tanpa bermaksud mengkonsumsi sisa-sisa makanan yang ada, puasa tidak batal, dengan syarat apabila saat itu sulit untuk memisahkan mana air ludah dan mana sisa-sisa makanan yang terkonsumsi. Ketika itu diberikan dispensasi dan tidak dianggap menyengaja mengkonsumsinya.
Apabila ada yang makan dan minum karena lupa (tanpa sengaja), maka puasanya tidak batal. Berdasarkan hadits dari Abi Hurairah Ra.
Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum” (HR. Bukhari).
Seolah-olah Allah telah memberinya rizki di bulan Ramadhan kepada orang yang berpuasa. Ini disebutkan secara redaksional pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

2. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga tubuh melalui lobang yang terbuka.

Benda yang dimaksud adalah setiap benda yang bisa ditangkap oleh indra manusia normal, besar ataupun kecil, meskipun sesuatu yang biasanya tidak dimakan, seperti benang dan jarum.
Rongga yang dimaksud adalah: bagian otak dan semua bagian organ tubuh yang berada setelah kerongkongan sampai kepada lambung dan usus-usus. Beda halnya dengan sesuatu yang masuk ke dalam rongga tidak melalui lobang yang terbuka, seperti melalui pori-pori, dll
Lobang yang terbuka adalah: mulut, kedua lobang hidung, kedua lobang telinga, qubul(kemaluan), dubur (anus), dll. 
Syarat sesuatu yang dimasukkan itu bias membatalkan puasa adalah, apabila dimasukkan dengan sengaja, bukan karena terpaksa/tidak bisa dihindari, seperti halnya debu atau lalat yang masuk tanpa disadari.
Berdasarkan keterangan diatas, maka;
Jikalau ada yang memasukkan sesuatu dari lobang-lobang yang terbuka dengan sengaja dan tanpa paksaan dari orang lain, maka puasanya batal. Ia wajib mengganti (qadha`)puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan.
Jikalau ada yang mengkonsumsi sesuatu melalui perantara lobang hidung, puasanya batal.
Jikalau ada yang meneteskan sesuatu melalui telinga atau mengorek telinga, maka puasanya batal.
Jikalau ada yang memakai obat tetes mata, puasanya tidak batal, meskipun ia merasakan adanya rasa pahit dan semisalnya di dalam rongga. Karena tempat masuknya adalah mata, bukan lobang yang terbuka.
Jikalau ada yang diinjeksi (suntik) saat berpuasa, puasanya tidak batal, karena suntik tidak dimasukkan pada lobang terbuka, tapi di tempat yang memang tidak ada lobang yang menyalurkan ke dalam rongga, yaitu kulit.
Air ludah selama masih berada di dalam mulut meskipun tertelan kembali, tidak menyebabkan batal puasa. Karena hal tersebut sulit untuk menghindarinya bagi setiap orang yang masih hidup. Tetapi Jikalau air ludah sudah dikeluarkan dari mulut, kemudian ditelan kembali, maka puasanya batal. Begitu juga ketika air ludah yang masih ada di dalam mulut tetapi sudah bercampur dengan najis dan tertelan, seperti ada orang yang gusinya berdarah dan ia tidak mencucinya atau meludahkannya, maka puasanya batal.
Seseorang yang berwudhu` boleh untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya di siang hari, akan tetapi tidak boleh sampai ke pangkal hidung, apalagi masuk ke dalam. Jikalau Ia memasukkan air sampai ke pangkal hidung dan air masuk ke dalam atau berkumur-kumur sehingga air masuk ke dalam kerongkongan, puasanya batal.
Jikalau ada orang yang menyuntikkan sesuatu melalui dubur (anus), kadarnya sedikit atapun banyak, maka itu membatalkan puasanya. Karena ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja, meskipun zat yang dimasukkan tidak sampai ke usus dan lambung. 
Jikalau ada perempuan yang meneteskan sesuatu ke dalam lobang air seni atau kemaluannya meskipun tidak sampai ke kantong kemih, maka puasanya batal, karena Ia telah memasukkan suatu benda ke dalam lobang yang terbuka dengan sengaja.Termasuk meskipun ia cuma memasukkan jari tangan ke dalam lobang kemaluannya.

3. Muntah disengaja.

Jikalau seseorang memasukkan tangannya atau memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongannya yang menyebabkan ia merasa mual dan muntah, maka puasanya batal.
Jikalau tidak disengaja, tapi ia tidak sanggup menahan muntah; karena pusing, karena kecapean, karena bau yang tidak menyenangkan, karena perjalanan, dll..maka puasanya tidak batal.
“Orang-orang yang tidak sanggup menahan muntahan, maka ia tidak wajib mengqadha puasanya dan orang –orang yang sengaja menyebabkant muntah, maka ia mesti mengqadha puasanya.”
Karena muntahan kalau sudah naik dari lambung, maka ia akan turun naik di dalam rongga, atau ada bagian dari muntahan yang kembali ke dalam lambung. Itu artinya ada benda yang masuk ke dalam rongga melalui lobang yang terbuka.
Jikalaupun muntahan keluar semuanya tidak ada lagi yang masuk kembali, maka puasanya tetap batal sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits. 

4. Berhubungan badan suami-istri dengan sengaja.

Berhubungan badan suami istri pada siang hari membatalkan puasa, meskipun pergaulan itu tidak menyebabkan keluarnya sperma. Kepada pasangan suami-istri dibolehkan melakukannya di malam hari, tanpa berpengaruh terhadap puasa mereka selama dilakukan sampai sebelum terbit fajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat:
“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari berpuasa untuk bergaul dengan istri-istri kalian”.
Para ahli tafsir mengartikan kalimat rafats di dalam ayat dengan jima` (pergaulan suami istri)
Di dalam ayat yang sama dijelaskan:
“Maka sekarang gaulilah mereka (istri-istri kalian)”
Di dalam ayat yang sama juga dijelaskan:
Kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai malam dan jangan kalian gauli mereka di saat kalian sedang beri`tikaf di  masjid-masjid”
Mubasyarah bermakna: bergaul suami-istri.
Berdasarkan penjelasan ayat maka dipahami bahwa bergaul suami-istri secara hubungan badan (seksual) membatalkan puasa. Jikalau bermesraan dengan istri tidak pada kemaluan (hubungan seks) atau sekedar mencumbui istri tapi menyebabkan keluar sperma, maka puasanya batal. Tetapi jikalau tidak menyebabkan keluar sperma, maka puasa mereka tidak batal.
Adapun orang-orang-orang yang masih dalam keadaan junub sampai masuknya waktu fajar; karena malam hari melakukan hubungan suami-istri atau malamnya mimpi basah, maka puasa mereka tidak batal. Mereka bisa mandi junub setelah fajar terbit dan menyempurnakan shaum mereka.

5. Istimna (berupaya mengeluarkan mani)

Yang dimaksud dengan istimna` adalah perbuatan yang sengaja mengeluarkan sperma tanpa melakukan hubungan badan. Seperti bercumbu, onani dengan tangan sendiri atau dengan tangan istri, atau dengan sentuhan pada kemaluan. Semua perbuatan itu membatalkan, karena ada upaya mengeluarkannya dengan sengaja.
Adapun jikalau sperma keluar bukan karena keinginan, seperti karena mimpi, berfantasi sesuatu yang indah atau melihat lawan jenis yang menarik, sehingga menyebabkan keluarnya sperma tanpa menyentuh kemaluan, maka puasanya tidak batal. Karena Ia tidak berupaya mengeluarkan sperma dengan sengaja secara langsung dari kemaluannya.
Adapun jikalau sekedar berciuman suami istri di saat berpuasa, tidak menyebabkan batalnya puasa. Hanya saja makruh hukumnya berciuman jikalau berciuman itu dapat membangkitkan syahwat, karena akan dapat menyebabkan seseorang sulit mengendalikan diri dan bisa membatalkan puasanya. Sebaiknya tidak melakukannya sama sekali di saat berpuasa.
“Nabi Saw mencium dan bermesraan (bukan pada kemaluan) dengan istri beliau di saat beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling kuat mengendalikan syahwat”

6. Haid dan nifas.

Jikalau seorang perempuan dari pagi hari dalam keadaan suci, kemudian di siang hari Ia mulai haid atau nifas, maka puasanya langsung batal. Ketika itu Ia mesti langsung membatalkan puasanya, karena Ia tidak lagi menjadi mukallaf untuk berpuasa. Dan ia justru berdosa jikalau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa jikalau berniat berpuasa. Karena diantara syarat sahnya puasa adalah bersih dari haid dan nifas. 
Puasa yang dibatalkannya tadi wajib diqadha` (diganti) di luar bulan Ramadhan, sedangkan shalatnya selama masa haid dan naifas tidak wajib di qadha`.

7. Hilang akal dan murtad (keluar dari agama islam).

Apabila seseorang hilang akal, karena gila, dll. atau keluar dari agama islam di siang hari, maka puasanya batal. Karena mereka ketika itu tidak lagi dihitung sebagai ahli ibadah, tidak lagi sah pelaksanaan ibadah dari mereka, termasuk puasa. Karena syarat orang-orang yang dituntut untuk berpuasa adalah berakal dan beragama islam. Sedangkan kedua syarat itu; berakal dan dalam keadaan islam tidak terpenuhi oleh seorang yang gila dan seorang yang murtad.

8. Tidak Mendirikan Sholat.

Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin tentang status puasa orang yang meninggalkan shalat. Beliau menjelaskan,

“Orang yang meninggalkan shalat, puasanya tidak sah dan tidak diterima. Karena orang yang meninggalkan shalat adalah orang kafir, telah murtad keluar dari islam. Berdasarkan firman Allah ta’ala,

“Jika mereka bertaubat, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudara kalian seagama. Kami menjelaskan ayat-ayat untuk kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11)

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Batas antara seorang muslim dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim 82)

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Nasai 463, Turmudzi 2621, Ibn Majah 1079 dan yang lainnya, hadis shahih).

“Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menilai ada satu amal yang jika ditinggalkan menyebabkan kafir, selain shalat.”

Oleh karena itu, jika ada orang yang puasa, namun dia tidak shalat maka puasanya tertolak dan tidak diterima, tidak ada manfaat untuknya di sisi Allah pada hari kiamat. Karena itu, kita nasehatkan kepada orang ini, ‘Kerjakan shalat dan laksanakan puasa. Jika anda puasa namun tidak shalat, puasa anda tertolak, karena ibadah orang kafir, tidak diterima.
Tentunya masih ada hal lain yang dapat membatalkan puasa selain yang dituliskan dalam artikel ini. Oleh sebab itu, diperlukan kajian tentang hal tersebut. Demikianlah sedikit pemaparan tentang Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa dalam artikel ini, semoga dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

0 comments:

Ramadhan Bersama, Bagi Pengantin Baru

0 Comments

Bulan ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Bagi pasangan pengantin baru, tentunya menjalankan ibadah di bulan ramadhan menjadi berbeda dari ramadhan sebelumnya. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan bersama pasangan saat bulan ramadhan.
 
Bulan ramadhan bukan berarti Anda tidak bisa melakukan hubungan intim bersama pasangan. Bahkan hubungan intim sangat disarankan bagi para pengantin baru.

Hubungan tersebut bisa meningkatkan keharmonisan dalam keluarga. Oleh karena itu, gunakan waktu malam hari untuk melakukan hubungan tersebut. Selain tidak dilarang, melakukan hubungan di malam hari juga jauh lebih baik daripada di siang hari, apalagi saat ramadhan.
Semua pasangan yang sudah remi menikah pasti menginginkan hubungan intim yang sehat. 


Saat ramadhan, pintar-pintarlah dalam mencari waktu yang tepat. Sebaiknya gunakan waktu awal malam untuk berhubungan intim.
Hindari waktu menjelang sahur karena ditakutkan bisa membuat Anda dan pasangan terlena dan melebihi waktu imsak. Jika sudah begitu, maka pahala bulan ramadhan Anda akan rusak.
Suami istri memang sudah dibolehkan untuk bermesraan sepanjang hari. Namun berhati-hatilah untuk melakukannya terutama di bulan ramadhan. Sebaiknya lakukan kegiatan lain yang bermanfaat di siang hari agar terhindar dari godaan setan.
Hindari kegiatan yang menjurus ke hubungan intim di siang hari. Hal ini bisa membuat pahala puasa Anda sia-sia.
Islam memang menyarankan kepada umatnya untuk menikah. Namun bagi pasangan baru. Menikah bukan berarti selalu melewatkan hari dengan berbulan madu tanpa menjalankan ibadah.
Apalagi seperti yang kita ketahui bersama, semua amalan akan dilipatgandakan pahalanya saat bulan ramadhan. Oleh karena itu, ajak pasangan Anda untuk ikut beribadah bersama.
Saat hari raya lebaran tiba, Anda dan pasangan bisa saling berkunjung ke rumah orang tua masing-masing. Bisa juga dengan mengadakan acara kumpul keluarga besar sekaligus. Hal ini penting untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga.(*)

0 comments:

Thariq bin Zaid Penaklukan Andalusia Pada Bulan Ramadan

0 Comments

Thariq_bin_Ziyad

بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم 

Thariq bin Ziad Penaklukan Andalusia Pada Bulan Ramadan ;Pada bulan Ramadan tahun ke 92 Hijrah, kaum muslimin dibawah pimpinan Thariq bin Zaid berjaya membuka Andalusia (Sepanyol). Peristiwa yang dikenali sebagai "Futuh Andalusia" ini begitu menyemarahkan semangat perluasan empayar Islam apabila Thariq dan tentera muslimin berjaya menyeberangi selat diantara Afrika dan Eropah atas pemerintahan Musa bin Nushair penguasa islam ketika itu. 

Setelah tentera islam menyeberangi selat berkenaan, Thariq memerintahkan agar semua kapal perang Islam dibakar sambil berpidato dengan penuh semangat bagi merangsang jiwa angkatan Islam : "Musuh di depan kamu, apabila kamu undur lautan di belakang kamu. Pilihlah yang mana satu lebih tinggi kehormatannya, berjuang di jalan Allah atau mati ditelan lautan. " 

Ucapan Thariq ini telah membakar semangat tentera muslimin untuk berjuang bermati-matian kerana ada di depan hanyalah berjuang sekuat tenaga dan mengharapkan pertolongan Allah. Semangat ini berjaya membolehkan satu demi satu kota musuh jatuh ke tangan kaum muslimin dan akhirnya Andalusia (Sepanyol) berjaya ditakluki tentera muslimin pada bulan Ramadan. 
Sejak itu, Andalusia (Sepanyol) menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan mercu peradaban manusia yang tersohor pada zamannya, sehinggakan kemajuan teknologi yang ada dimiliki Eropah sekarang adalah warisan teknologi umat Islam pada masa silam.

0 comments:

‎Kisah Benar‬ Sepasang Remaja Di Malam Pertama Pengantin Baru.

2 Comments

Semoga kisah ini menyedarkan ramai remaja untuk menjaga kehormatan diri masing-masing sehinggalah berkahwin. Bersabar dan berpuasalah untuk mengekang nafsu.


Kisah malam pertama yang Pak Lang paparkan pada Rabu, 20 November 2013 disambung kembali. Semoga para remaja sekalian dapat mengambil manfaat dari kisah ini.
Sila baca semula dari awal ..........

Banyak juga cerita yang Pak Lang dengar tentang remaja yang soleh (yang baik, warak dan beriman). Kisah mereka ini agak lucu. Maklumlah remaja yang tidak terdedah dengan maksiat atau mungkar. Mereka jadi manusia yang tidak pandai dalam hal berkaitan seks atau hubungan suami isteri. Eloklah begitu! Cuma ibu bapa pasangan pengantin sebegini kenalah pandai memahamkan mereka agar bahtera rumah tangga yang dilayari dapat dimulakan dengan penuh indah dan bahagia.

Sememangnya tidaklah dinafikan - terutama dalam jemaah islam - adanya remaja yang begitu bersemangat mentaati perintah Allah. Meraka sangat serius dalam menghayati syariat Allah. Jadilah mereka orang yang warak - yang sangat menjaga halal haram dalam segenap sudut kehidupan atau pergaulan. Bila tiba masanya untuk mereka berkahwin, mereka akan pastikan calon isterinya atau suaminya adalah sealiran dengan jemaah yang diyakininya.

Mereka tidak terlibat sama sekali dalam pergaulan bebas, berfoya-foya dan sebagainya. Hidup mereka penuh dengan aktiviti sembahyang berjemaah, pengajian agama, usrah, qiamullail, dakwah, menerbitkan bahan bacaan islami dan lain-lain aktiviti yang sangat positif. Justeru, mereka sangat berhati-hati menggunakan internet. Sangatlah mereka berusaha mengawal diri agar tidak memandang yang haram yang biasa terdapat di media internet.

Cerita malam pertama ini mengisahkan sepasang pengantin baru yang mengalami kebuntuan komunikasi. Lebih tepatnya kedua-duanya beku dan kaku ketika berdua-duaan di kamar pengantin. Apa yang terjadi kedua-duanya saling membisu. Tidak ada suara yang terbit dari mulut masing-masing. Suara seolah-olah tersekat di kerongkong. Suasana malam kekal sunyi. Hanya yang kedengaran ialah suara jengkerik dan burung 'segan' berbunyi yang menggerunkan.

Itulah kamar pengantin sepasang remaja yang benar-benar tidak terdedah dengan kisah seks bebas atau sebarang pengetahuan mengenai kehidupan yang melanggar batasan syariat.

Pengantin lelaki bernama Hisyam (bukan nama sebenar) manakala pengantin perempuan bernama Munirah (juga bukan nama sebenar). Mereka berkahwin atas dasar taat dengan pilihan emak ayah masing-masing. Mereka bersetuju kerana calon suami atau isteri yang dinyatakan kedua orang tua mereka adalah remaja yang juga sangat berakhlak dan komited dengan jemaah pilihan mereka.

Hisyam masuk ke bilik pengantin tanpa dapat mengucapkan salam. Suaranya tersekat, lidahnya kelu. Isterinya Munirah yang baru dinikahi pagi tadi telah merebahkan diri. Berselimut litup seluruh tubuh dari hujung rambut ke hujung kaki.

“Malu agaknya. Maklumlah malam pertama…” Hisyam berbisik di dalam hatinya tanpa dia sedar siisteri yang di dalam selimut masih belum tidur.

Hisyam pergi ke sudut bilik. Dalam samar lampu bilik yang penuh romantik itu, dia menunaikan solat taubat dan menutupnya dengan doa yang panjang. Dia merintih kepada Allah swt agar dikurniakan isteri yang solehah dengan harapan mereka dipimpinNya ke jalan yang benar. Dia mengharapkan lahirnya rumah tangga yang tertegak sistem hidup yang membesarkan Allah dan Rasul.

Sebaik selesai, Hisyam melirik sekilas kepada isteri yang masih di dalam selimut. Masih tidak ada sebarang gerak. Bunyi nafas pun tidak kedengaran! Hatinya terdorong untuk menyentuh atau mengejutkannya tetapi dia juga rasa malu. Tangannya menggeletar. Hasrat itu diundurkannya.

Lantas, dia pun mematikan lampu dan terus mengucap basmalah lalu berbaring di atas katil di sebelah siisteri. Tibat-tiba Hisyam terdengar suara merdu isterinya penuh romantis memecah kesunyian bilik pengantin mereka. “Buah papaya sudah masak ranum, bilakah tupai nak datang merasa ?”

“Eh, eh!! apa cerita ni?” terperanjatnya Hisyam di dalam hati. Hampir dia bersuara menegur isterinya itu. Tapi diundurkan juga hasratnya kerana menyangka siisteri sedang mengigau. "Oh, agaknya isteri ku teringat kampung halaman. Kasihan...sampai mengigau? Takpelah, biarlah dia tidur" bisik hatinya yang sedang berusaha memahami hasrat siisteri.

Hisyam tidak dapat melelapkan matanya. Dia teringat 'igauan' isterinya tadi. Dia mengambil kesimpulan akan membawa Munirah, isterinya mencari buah papaya seperti yang diigaukan itu. Maklumlah baru berkahwin - terasa sangat mahu melayan apa jua kehendak isteri. Hisyam tertidur bungkam dalam keadaan muka yang polos. Dengkuran nipisnya didengar Munirah.

Siisteri yang belum tidur, sedang memasang telinga mendengar apa jua gerakan daripada sisuami. Dia menunggu suami mendekati dan menyentuhnya. Inikan malam pertama mereka. Dia pun tidak tahu apakah yang patut dilakukannya kepada suami. Dia hanya tahu, dia perlu taat dan patuh pada suami. Apa juga hajat suami, dia akan berusaha menunaikannya. Dia rela apa saja asalkan ianya adalah kehendak Allah dan Rasul termasuklah menyerahkan kehormatan diri yang sangat dipeliharanya selama ini.

Mendengar dengkuran suaminya, Munirah agak kecewa, tetapi sempat dia memujuk diri dengan bersangka baik dengan suaminya. Adakah suaminya tidak mendengar ungkapannya tentang 'buah papaya masak' tadi atau suaminya tidak memahami kiasan kata-katanya itu? Itulah yang difikirkannya di dalam selimut itu.

Munirah membuka selimut perlahan-lahan, khuatir gerakannya mengejutkan suaminya. Dia memandang wajah polos suaminya puas-puas. Sudah halal baginya memandang wajah lelaki ajnabi kerana lelaki yang sedang tidur itu adalah suaminya yang sah. "Lucu juga wajah suami aku ini...tidur macam gaya adik aku!!" Bisiknya dalam hati. Dia teringatkan adik bongsunya, Syafiq yang gaya tidurnya seperti gaya suaminya tidur ketika itu.

Munirah tidak dapat menahan sabar. Rasa hatinya mendorong-dorong untuk dia menyentuh wajah suaminya itu. Tapi entah kenapa, tangannya gementar terlalu amat. Dadanya juga berombak kencang. Tidak tahu apa yang ditakutinya dan apa pula yang digeruninya. Dia hanya sedang berdepan dengan seorang suami yang sedang tidur. Cuma hatinya sangat yakin, dia sedang melakukan sesuatu yang diredhai Tuhan. Mereka suami isteri halal antara satu dengan yang lain. Mereka berdua bukan lagi orang asing. Mereka sudah sah sebagai suami isteri.

Setelah puas menahan gementar, berjaya juga Munirah menyentuh kulit muka suaminya itu. Terasa diganggu, Hisyam dalam tidurnya mengukir tanda tidak selesa pada gerak mulutnya. Munirah tersenyum sendirian. "Wah! macam gaya Syafiq bila kena ganggu waktu tidur!!" Sukanya Munirah melihat reaksi tanpa sedar suaminya itu.

Sekali lagi dia menyentuh wajah suaminya. Kali ini walaupun tangannya masih gementar, dia dapat meletakkan hujung jari telunjuknya itu di pipi suaminya yang agak berisi itu. malah diusap-usapnya dua tiga kali. Kali ini - dalam keadaan masih tidur, Hisyam rupanya terasa ada gangguan yang ketara pada wajahnya. Tangannya diangkat untuk menepis 'sesuatu' pada mukanya. Munirah segera menarik tangannya agar tidak terkena tangan suaminya.

"Alhamdulillah selamat!" Getus hatinya lagi sambil dia tersenyum sendirian. Munirah sudah berani. Tangannya sudah tidak gementar. Sekali lagi dicubanya menyentuh muka suaminya tetapi dia mengubah fikiran. Lebih baik dia membelai rambut suaminya - sama seperti yang selalu dilakukannya pada adiknya Syafiq. Tindakannya itu tidak mengundang apa-apa reaksi Hisyam.

Munirah jadi makin berani. "Wah! terima kasih Tuhan!" Katanya dalam hati. Rasa bahagia dengan apa yang dilakukannya itu mula menyelinap masuk ke hatinya. Dia yakin suaminya tidak akan memarahinya malah mungkin menyukai tindakannya sedemikian. Kali ini Munirah bertekad untuk mendekatkan hidungnya ke wajah suaminya.

Tetapi belum pun sempat dia melakukannya, Hisyam yang masih nyenyak tidur, tiba-tiba mengalihkan badannya. Munirah yang sedang mendekatkan mukanya tidak sempat mengelak. Tangan Hisyam yang cuba menarik selimut ke badannya. tersentuh pada kepala Munirah.

Hisyam terjaga! Matanya tidak dibuka sepenuhnya tetapi hanya dicelikkan separuh dan bersedia untuk ditutup tidur kembali. Tetapi sebaik mata kuyu itu melihat bayangan wanita di depannya, dia terlupa dia sudah berkahwin. Tentulah dia terperanjat yang amat sangat. Siapa pula wanita yang sedang tidur bersamanya di waktu tengah malam begitu.

Matanya dibuka luas malah terbeliak terperanjat. Hisyam bahkan terduduk, terjaga dengan wajah rasa bersalah, malu dan hairan. "OH! rupanya aku memang sudah kahwin! Ini isteri aku!!" Itulah ungkapan hatinya memarahi diri.

"Ma...maaa..aafkan Munirah ya abang!" Munirah tunduk malu tetapi ungkapan maafnya jelas menyelinapkan arus sejuk yang syahdu ke telinga dan terus ke hati Hisyam. Hisyam makin kaku. Dia cuba senyum dan bercakap. Suaranya melekat di kerongkongan. "O..Ok! tak pe!!" itulah yang termampu keluar dari mulut Hisyam.

Munirah mengambil keputusan mendekat kepada suaminya. Dihulurkan tangannya kepada Hisyam. Hisyam masih kaku. Dia tidak tahu apakah yang patut dilakukannya. "Abang! Munirah minta maaf sebab ganggu abang tidur!!" "Oh!! tidak mengapa, eloklah kejutkan abang!" Akhirnya Hisyam berjaya berkata-kata sebanyak itu walaupun tangannya masih belum menyambut tangan isterinya.

Munirah akhirnya memegang tangan suaminya. Terasa ada gementar yang kuat pada tangan Hisyam. Munirah tahu, gementar itu juga berlaku padanya di awal tadi. Nanti ianya akan berkurangan. Munirah menggenggam tangan kanan Hisyam dengan kedua belah tangannya. Tangannya yang lembut itu sangat meruntun hati Hisyam.

"Terima kasih Tuhan atas kurniaMu pada kami. Engkaulah yang menjodohkan kami, Engkaulah penentu segala-galanya untuk kami. Bantulah kami untuk terus mentaatiMu sehingga ke akhir hayat kami". Itulah munajat Hisyam - remaja yang baru bergelar suami yang kuat hubungan hatinya dengan Tuhan. Dia kembali tenang setelah mendapat jabatan tangan, salaman siisteri. Dia terasa macam bermimpi tadinya.

Tiba-tiba Munirah tunduk lalu mencium dan mengucup belakang tangan Hisyam. Berdebar gemuruh pula jantung Hisyam dengan tindakan Munirah itu. Sebaliknya Munirah kekal lama dalam keadaan tunduk sebegitu. Mulutnya masih mencium belakang tangan Hisyam. Genggamannya masih belum dilepaskan bahkan ianya makin erat.

Munirah berkata, "Abang tolong doakan saya ya! Doakan agar saya jadi isteri yang solehah, isteri yang tetap mengagung dan membesarkan Tuhan dengan rasa takutkan Allah serta rindukan Baginda Rasulullah saw. Abang doakanlah Munirah di malam yang para malaikat menyaksikan kita berdua sebagai suami isteri"

Hisyam pun mengangkat tangan kirinya lalu diletakkannya di atas ubun-ubun isterinya. Lalu dia pun mengungkapkan doa yang diaminkan oleh Munirah,

"Ya Allah, ya Tuhan Kami, terima kasih atas kurniaanMu kepada kami dengan jodoh kami ini. Engkaulah Tuhan yang maha agung yang telah menyelamatkan kami sepanjang usia remaja kami untuk mentaatiMu. Terima kasih Tuhan kerana Engkaulah yang telah menunjuk jalan keselamatan ini untuk kami. Kalaulah tidak dengan pimpinanMu, nescaya telah lama kami terjerumus seperti remaja-remaja yang lain."

Ya Allah, kami berazam untuk menjadikan rumah tangga kami sebagai rumah tangga contoh di akhir zaman. Engkau bantulah kami ya Allah agar kami terpimpin melakukannya. Ya Allah ya Tuhan kami, Tuhan yang maha mendengar rintihan hati kami. Inilah malamnya engkau pertemukan kami walaupun sebelum ini kami tidak pernah saling mengenali. Berikanlah perasaan cinta, kasih dan sayang sesama kami atas dasar semata keranaMu Ya Allah."

"Engkaulah yang maha tahu betapa kami ingin terus mencari keredhaanMu. Engkau jadikanlah rumah tangga kami sebagai landasan untuk kami mencapai redhaMu. Engkau peganglah hati-hati kami, pandulah kami melepasi ranjau-ranjau kehidupan rumah tangga agar kami istiqamah dalam ibadah, dalam perjuangan dan dalam pengorbanan."

"Pimpinlah kami Ya Allah pada setiap waktu dan ketika agar kami sentiasa dapat menerima apa saja yang Engkau timpakan ke atas kami. Janganlah Engkau biarkan kami tanpa pimpinan kerana kami takut kami kecundang di pertengahan jalan."

"Tuhan, sesungguhnya kami lemah jika kami sendirian. Tolonglah kami Tuhan! Kami sangat perlukan orang yang boleh memimpin kami. Pertemukanlah kami dengan orang-orangMu Tuhan agar kami boleh terus membaiki diri dan terpimpin melawan nafsu dan syaitan. Ya Allah kabulkan permintaan kami.... Amin Ya rabbal 'Alamin"

Hisyam mengakhiri doa yang dibacanya sepenuh jiwa itu dengan mengucup ubun-ubun dan dahi isterinya. Air matanya bergenang dengan pelbagai perasaan yang berbaur. Munirah hanya mampu menangis teresak-esak. Dia terus tersembam di ribaan suaminya. Hatinya tersentuh dengan doa suaminya. Itulah harapannya selama ini dan suaminya telah ungkapkan satu doa yang sama seperti yang diharapkannya berlaku dalam perkahwinan mereka.

Dia berjanji dengan Tuhan untuk benar-benar menjadi isteri yang solehah iaitu isteri yang bernilai tinggi di sisi Tuhan. Dia mahu mencatat sejarah sebagai seorang bidadari kepada suami dan sebagai seorang serikandi bersama suami membela Islam diakhir zaman. Dia tahu ujian dan cabaran pastinya akan datang silih berganti, tetapi dia menyerah segala-galanya kepada Allah. Jika dia tetap istiqamah, semoga apa yang dilaluinya nanti adalah peningkatan rohaniah yang berterusan. Itulah maksud kejayaan yang sebenarnya.

Demikianlah kisah Hisyam dan Munirah seadanya. Pak Lang ubah suai sedikit kisah ini untuk paparan dalam page ini. Beruntunglah ibu bapa yang mempunyai anak-anak sehebat Hisyam dan Munirah. Mari kita sama-sama berazam dan berusaha untuk melahirkan generasi salafussoleh di zaman ini. Semoga kita semua dibantu Tuhan merealisasikannya dengan berkat Rasulullah saw dan para kekasih Tuhan!!

2 comments:

Karunia Ramadhan bagi Wanita Haid dan Nifas

0 Comments

Karunia Ramadhan bagi Wanita Haid dan Nifas

Shaum Ramadhan salah satu ibadah yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan Allah SWT dan diajarkan Rasulullah SAW (bersifat tauqifiyah).  Kaum muslim diperintahkan untuk melaksanakannya tanpa mengurangi dan menambahnya.  Manusia tidak boleh mencari-cari hikmah dan manfaat ataupun alasan di balik pelaksanaan ibadah tersebut, kecuali apa yang telah disebutkan di dalam nash-nash Syara.  

Oleh karena itu,  kaum muslim wajib mengikuti semua bentuk perincian ibadah Shaum dengan mengacu pada al-Qur’an maupun as-Sunnah. Dan bilamana hal itu dilaksanakan dengan benar dan hanya mengharapkan ridha Allah SWT maka Shaumnya akan meningkatkan derajat ketaqwaannya.




Shaum Wanita Haid dan Nifas

Islam membedakan persoalan ibadah shalat dengan ibadah shaum bagi wanita haid dan nifas.  Dalam perkara shalat, Allah SWT telah mengangkat kewajiban tersebut dari keduanya.  Oleh karena itu, mereka tidak diperintahkan mengqadha (mengganti) shalat selepas masa haid dan nifasnya.  Namun, tidak demikian dengan Shaum.  Allah SWT tidak mengangkat taklif Shaum dari keduanya.  Allah SWT hanya mengundurkan waktu pelaksanaannya hingga selesai masa haid dan nifasnya.  Oleh karena itu, wanita haid dan nifas wajib mengqadha Shaum saat masa haid dan nifasnya telah selesai.  Mengapa terdapat perbedaan seperti itu?

Shaum maupun shalat merupakan bagian dari ibadah.  Dalam hal ibadah, Allah SWT tidak memberikan ‘illat atas bentuk pelaksanaannya. Dalam persoalan ini pun, tidak ada satu pun nash yang menunjukkan atas ‘illat tentang perbedaan masalah tersebut.  Oleh karena itu, selayaknya kita tidak perlu mencari-cari sebab mengapa aturan keduanya berbeda.  Dari Muadzah ia berkata : “Bagaimana orang haid harus mengqadha Shaum sedangkan ia tidak harus mengqadha shalat?  Aisyah bertanya: Apakah engkau seorang Khawarij Haruriyah?  Aku berkata: Aku bukan seorang Haruriyah, tetapi aku sekedar bertanya.  Aisyah berkata: Kami pernah mengalami hal itu, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha Shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat”. (HR. Muslim, Bukhari, Abu Daud, an Nasai dan Tirmidzi)

Wanita haid dan nifas diharamkan berShaum selama darah masih mengalir di masa haid atau nifasnya.  Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan Shaumnya dan mengqadhanya pada waktu yang lain.  Apabila darahnya terhenti pada malam hari (sebelum terbit fajar), maka Shaum pada hari itu wajib atasnya dan sah, walaupun ia mandi setelah terbit fajar.  Sebab, yang menjadi penentu adalah mengalir atau tidaknya darah.  Sementara mandi adalah perkara yang lain.  Oleh karena itu, seorang wanita -jika telah terhenti darah haid atau nifasnya- maka wajib atasnya Shaum Ramadhan.  Jika hal ini terjadi pada siang hari maka ia wajib berShaum saat itu juga meski harus mengqadha di waktu yang lain.  Hal ini dikarenakan ia tidak memulai Shaumnya sejak terbit fajar.  Hal ini sebagaimana orang yang terlambat mendapatkan khabar datangnya bulan Ramadhan pada siang hari, ia wajib berShaum pada sisa waktu (hari) yang ia dapati tetapi mengqadha pada hari yang lain.


Qadha Shaum

Mengqadha Shaum sah dilakukan secara berturut-turut atau berselang-seling tanpa ada pengutamaan salah satu dari keduanya.  Mengqadha Shaum Ramadhan juga sah dilakukan secara langsung setelah hari raya Idul Fitri (mulai tanggal 2 Syawal).  Demikian pula, qadha sah dilakukan meski diakhirkan hingga bulan Sya’ban, beberapa saat sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.  Dalil atas masalah ini adalah keumuman ayat :
“..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berShaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain..” (TQS. Al Baqarah [2]: 184)

Ayat tersebut menetapkan qadha Shaum secara mutlak tanpa batasan (taqyid) dan pengkhususan (takhsis).  Hal ini menunjukkan adanya keluasan waktu mengqadha Shaum hingga sebelum datang Ramadhan berikutnya.  Dalam hal ini para fuqoha telah bersepakat. Dalil lainnya adalah dari Aisyah ra, ia berkata :

“Aku tidak mengqadha hutang Shaum Ramadhan-ku kecuali pada bulan Sya’ban hingga Rasulullah Saw dimakamkan”. (HR. Ibnu Khuzaemah, Tirmidzi, dan Ahmad)
Jika seseorang -tanpa udzur- melalaikan qadha Shaum hingga melewati Ramadhan berikutnya, maka ia dipandang sudah melalaikan kewajiban (al-mufarrith).  Namun demikian para ulama berbeda pendapat tentang apakah ia harus membayar fidyah (sebagai kafarat) atas Shaum yang ditinggalkannya ataukah tidak.

Abu Hanifah dan para shahabatnya, Ibrahim An-Nakha’i, al Hasan al Bashri, al Muzani dan Dawud bin Ali berpendapat bahwa orang tersebut hanya wajib qadha saja.  Sedangkan jumhur ulama berpendapat orang tersebut wajib mengqadha Shaum dan membayar fidyah (yaitu memberi makan orang miskin dari setiap hari Shaumnya).
Pendapat seperti ini diriwayatkan berasal dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Abu Hurairah ra.  Bukhari berkata: “….Ibrahim berkata: jika seseorang melalaikan qadha hingga tiba Ramadhan berikutnya, maka ia harus berShaum mengqadhanya tanpa perlu memberi makan.  Tetapi ada riwayat dari Abu Hurairah secara mursal, dan dari Ibnu Abbas, bahwa orang tersebut harus memberi makan.”

Pendapat yang lebih kuat adalah yang disampaikan oleh ulama Hanafiyah.  Hal ini dikarenakan kewajiban membayar fidyah bagi orang yang melalaikan kewajiban qadha memerlukan nash Syara.  Sementara tidak ada satu pun nash Syara yang datang dalam masalah ini.  Sehingga pensyariatan hukum seperti itu tidak sah.  Memang ada pernyataan yang dinukil at Thahawi dari Yahya bin Aktsam: Aku menemukan pendapat tentang fidyah ini dari enam orang shahabat dan aku tidak mengetahui orang yang menyalahi mereka dalam masalah ini. Ternyata semua riwayat yang berasal dari sahabat ini tidak terbukti kuat, karena diriwayatkan melalui jalur-jalur yang dhaif sehingga harus ditolak dan tidak boleh diikuti.

Sejumlah ahli fiqh juga telah keliru tentang pernyataan shahabat: “Sesungguhnya orang yang sakit jika tidak berShaum Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, maka hendaknya ia berShaum Ramadhan dan memberi makan pengganti Ramadhan yang luput kepada seorang miskin dari setiap harinya”. Pernyataan tersebut tertukar dengan riwayat-riwayat dhaif di atas sehingga mereka mewajibkan fidyah secara mutlak.  Padahal yang benar, bagi orang yang sakit sedangkan ia tidak mampu mengqadha sepanjang tahun maka ia diwajibkan membayar fidyah saja (sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran).
Adapun bagi orang yang lalai mengqadha Shaum hingga beberapa Ramadhan maka kewajiban qadhanya tetap berlaku.  Ia tidak cukup hanya mengqadha Ramadhan yang terakhir saja.  Ini dikarenakan qadha Shaum Ramadhan tidak gugur dengan lewatnya waktu lebih dari satu tahun.  Dengan melalaikannya (mengakhirkannya) maka ia telah berdosa, dan ia tetap terkena beban untuk mengqadha seluruh Shaum yang pernah ditinggalkannya.


Amalan Lain bagi Wanita Haid dan Nifas

Meski tidak berShaum, wanita yang sedang haid dan nifas masih mempunyai kesempatan untuk meraih kemuliaan Ramadhan.  Mereka harus bisa mengoptimalkan berbagai amalan yang berfungsi sebagai ‘pengganti’ amal Shaum Ramadhan.  Untuk itu, mereka dianjurkan untuk lebih meningkatkan berbagai amalan, diantaranya :
  1. Berdzikir dan berdoa memohon ampunan Allah SWT
  2. Bersedekah
  3. Memberi makan orang yang berbuka Shaum
  4. Meringankan pekerjaan orang yang berShaum
  5. Menimba ilmu untuk meraih ketaatan yang lebih tinggi kepada Allah SWT
  6. Beramar makruf nahi munkar
  7. Melaksanakan berbagai ketaatan sekaligus meminimalisir kemaksiyatan, karena setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipat gandakan pahalanya.
  8. Dan lain-lain
Oleh karena itu, selayaknya muslimah yang sedang haid atau nifas tidak menghabiskan waktu dan energinya untuk sesuatu yang sia-sia.  Sesungguhnya Bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan dan keberkahan.  Tak seharusnya mereka jauh atau kosong dari suasana ruhiyyah Ramadhan.  Banyak hal yang bisa dilakukannya.  Dan jika hal itu mampu mereka optimalkan sesungguhnya Allah SWT Maha Memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh mencari karunia-Nya.


Semoga Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terindah dari Ramadhan-Ramadhan yang pernah kita lalui.  Dan karunia-Nya adalah karunia terbesar yang bisa kita raih, setelah kita memahami dan mengamalkan seluruh hukum-hukum Allah SWT, khususnya dalam masalah shaum Ramadhan ini.  Aamiin ya Mujiiba Saailiin. [Noor Afeefa]
Rujukan utama :

Kitab “Al-Jaami’ li al-ahkami ash-shiyaam” (terj.) karya Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, 2001

0 comments:

Kesilapan Kerap Yang Kita Lakukan Tanpa Sedar Dalam Bulan Ramadhan

0 Comments

Pada hemat saya, kita bolehlah mengatakan bahawa objektif atau sasaran yang perlu dicapai oleh Muslim di bulan Ramadhan ini kepada dua yang terutama. Iaitu taqwa dan keampunan. Perihal objektif taqwa telah disebut dengan jelas di dalam ayat 183 dari surah al-Baqarah. Manakala objektif ‘mendapatkan keampunan' ternyata dari hadith sohih tentang Sayyidatina Aisyah r.a yang bertanya kepada nabi doa yang perlu dibaca tatkala sedar sedang mendapat lailatul qadar. Maka doa ringkas yang diajar oleh Nabi SAW adalah doa meminta keampunan Allah SWT.

Bagaimanapun, kemampuan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala ramadhan kerap kali tergugat akibat kekurangan ilmu dan kekurang perihatinan umat Islam kini. Antara yang saya maksudkan adalah :-
1) Makan dan minum dengan bebas setelah batal puasa dengan sengaja (bukan kerana uzur yang diterima Islam). Perlu diketahui bahawa sesiapa yang batal puasanya dengan sengaja tanpa uzur seperti mengeluarkan mani secara sengaja, merokok, makan dan minum. Ia dilarang untuk makan dan minum lagi atau melakukan apa jua perkara yang membatalkan puasa yang lain sepanjang hari itu. (Fiqh as-Siyam, Al-Qaradawi, hlm 112).
Ia dikira denda yang pertama baginya selain kewajiban menggantikannya kemudiannya. Keadaan ini disebut di dalam sebuah hadith, Ertinya : "sesungguhnya sesiapa yang telah makan (batal puasa) hendaklah ia berpuasa baki waktu harinya itu" (Riwayat al-Bukhari)
2) Makan sahur di waktu tengah malam kerana malas bangun di akhir malam. Jelasnya, individu yang melakukan amalan ini terhalang dari mendapat keberkatan dan kelebihan yang ditawarkan oleh Nabi SAW malah bercanggah dengan sunnah baginda. "Sahur" itu sendiri dari sudut bahasanya adalah waktu terakhir di hujung malam. Para Ulama pula menyebut waktunya adalah 1/6 terakhir malam. (Awnul Ma'bud, 6/469). Imam Ibn Hajar menegaskan melewatkan sahur adalah lebih mampu mencapai objektif yang diletakkan oleh Nabi SAW. (Fath al-Bari, 4/138)
3) Bersahur dengan hanya makan & minum sahaja tanpa ibadah lain. Ini satu lagi kesilapan umat Islam kini, waktu tersebut pada hakikatnya adalah antara waktu terbaik untuk beristigfar dan menunaikan solat malam.
Firman Allah ketika memuji orang mukmin ertinya : " dan ketika waktu-waktu bersahur itu mereka meminta ampun dan beristighfar" (Az-Zariyyat : 18)
يا رسول الله , أي الدعاء أسمع ؟ : قال : جوف الليل الأخير ودبر الصلوات المكتوبة
Ertinya : "Ditanya kepada Nabi (oleh seorang sahabat) : Wahai Rasulullah :" Waktu bilakah doa paling didengari (oleh Allah s.w.t) ; jawab Nabi : Pada hujung malam (waktu sahur) dan selepas solat fardhu" ( Riwayat At-Tirmidzi, no 3494 , Tirmidzi & Al-Qaradhawi : Hadis Hasan ; Lihat Al-Muntaqa , 1/477)
4) Tidak menunaikan solat ketika berpuasa. Ia adalah satu kesilapan yang maha besar. Memang benar, solat bukanlah syarat sah puasa. Tetapi ia adalah rukun Islam yang menjadi tonggak kepada keislaman sesorang. Justeru, ‘ponteng' solat dengan sengaja akan menyebabkan pahala puasa seseorang itu menjadi ‘kurus kering' pastinya.
5) Tidak mengutamakan solat Subuh berjemaah sebagaimana Terawih. Ini jelas suatu kelompongan yang ada dalam masyarakat tatakala berpuasa. Ramai yang lupa dan tidak mengetahui kelebihan besar semua solat fardhu berbanding solat sunat, teruatamnya solat subuh berjemaah yang disebutkan oleh Nabi SAW bagi orang yang mendirikannya secara berjemaah, maka beroleh pahala menghidupkan seluruh malam.
6) Menunaikan solat terawih di masjid dengan niat inginkan meriah. Malanglah mereka kerana setiap amalan di kira dengan niat, jika niat utama seseorang itu ( samada lelaki atau wanita) hadir ke masjid adalah untuk meriah dan bukannya atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran redha Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Nabi SAW di dalam hadith riwayat al-Bukhari. Maka, "Sesungguhnya sesuatu amalan itu dikira dengan niat". (Riwayat al-Bukhari)
7) Bermalasan dan tidak produktif dalam kerja-kerja di siang hari dengan alasan berpuasa. Sedangkan, kerja yang kita lakukan di pejabat dengan niat ibadat pastinya menambahkan lagi pahala. Justeru, umat Islam sewajarnya memperaktifkan produktiviti mereka dan bukan mengurangkannya di Ramadhan ini.



8) Memperbanyakkan tidur di siang hari dengan alasan ia adalah ibadat. Sedangkan Imam As-Sayuti menegaskan bahawa hadith yang menyebut berkenaan tidur orang berpuasa itu ibadat adalah amat lemah. (al-Jami' as-Soghir ; Faidhul Qadir, Al-Munawi, 6/291)
9) Menganggap waktu imsak sebagai ‘lampu merah' bagi sahur. Ini adalah kerana waktu imsak sebenarnya tidak lain hanyalah ‘lampu amaran oren' yang di cadangkan oleh beberapa ulama demi mengingatkan bahawa waktu sahur sudah hampir tamat. Ia bukanlah waktu tamat untuk makan sahur, tetapi waktu amaran sahaja. Lalu, janganlah ada yang memberi alasan lewat bangun dan sudah masuk imsak lalu tidak dapat berpuasa pada hari itu. Waktu yang disepakti ulama merupakan waktu penamat sahur adalah sejurus masuk fajar sadiq (subuh). (As-Siyam, Dr Md ‘Uqlah, hlm 278)
10) Wanita berterawih beramai-ramai di masjid tanpa menjaga aurat. Ini nyata apabila ramai antara wanita walaupun siap bertelekung ke masjid, malangnya kaki dan aurat mereka kerap terdedah da didedahkan berjalan dan naik tangga masjid di hadapan jemaah lelaki. Tatkala itu, fadhilat mereka solat di rumah adalah lebih tinggi dari mendatangkan fitnah buat lelaki ketika di masjid.
11) Memasuki Ramadhan dalam keadaan harta masih dipenuhi dengan harta haram, samada terlibat dengan pinjaman rumah, kad kredit, insuran, pelaburan dan kereta secara riba. Ini sudah tentu akan memberi kesan yang amat nyata kepada kualiti ibadah di bulan Ramadhan, kerana status orang terlibat dengan riba adalah sama dengan berperang dengan Allah dan RasulNya, tanpa azam dan usaha untuk mengubahnya dengan segera di bulan 'tanpa Syaitan' ini, bakal menyaksikan potensi besar untuk gagal terus untuk kembali ke pangkal jalan di bulan lain.
Nabi Muhammad menceritakan :-
ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّمَاءِ يا رَبِّ يا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Ertinya :  menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku...wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya. ( Riwayat Muslim, no 1015, 2/703 ; hadis sohih)
Justeru, bagaimana Allah mahu memakbulkan doa orang yang berpuasa sedangkan keretanya haram, rumahnya haram, kad kreditnya haram, insurannya haram, simpanan banknya haram, pendapatannya haram?. Benar, kita perlu bersangka baik dengan Allah, tetapi sangka baik tanpa meloloskan diri dari riba yang haram adalah penipuan kata Imam Hasan Al-Basri.
12) Tidak memperbanyakkan doa tatkala berpuasa dan berbuka. Ini satu lagi jenis kerugian yang kerap dilakukan oleh umat Islam. Nabi SAW telah menyebut :-

ثلاثة لا ترد دعوتهم , الإمام العادل , والصائم حتى يفطر ودعوة المظلوم
Ertinya : "Tiga golongan yang tidak di tolak doa mereka, pemimpin yang adil, individu berpuasa sehingga berbuka dan doa orang yang di zalimi" ( Riwayat At-Tirmizi, 3595, Hasan menurut Tirmizi. Ahmad Syakir : Sohih )

Selain itu, doa menjadi bertambah maqbul tatkala ingin berbuka berdasarkan hadith.

إن للصائم عند فطره دعوة لا ترد
Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu ketika berbuka (atau hampir berbuka) doa yang tidak akan ditolak" ( Riwayat Ibn Majah, no 1753, Al-Busairi : Sanadnya sohih)

Sekian

0 comments: